Minggu, Oktober 26, 2008

Dari Hati Turun ke Kaki

Armand Maulana, vokalis band GIGI berjingkrak-jingkrak di atas panggung mengikuti irama yang menghentak. “...ini hanya mimpi”, teriaknya melantunkan sepenggal lagu yang dia nyanyikan. Tapi, bagi Ricardo Salampessy dan kawan-kawan apa yang terjadi malam itu, 13 Januari 2007, bukanlah mimpi. Tim mereka, Persipura Jayapura, baru saja dikalahkan Sriwjaya FC Palembang lewat drama adu penalti 0-3 setelah bermain imbang 1-1 dalam partai final yang berlangsung seru di Gelora Bung Karno Jakarta diajang Copa Dji Sam Soe.

Tak ada yang bermimpi malam itu. Tak ada. Bisa jadi, di sebuah kamar berjeruji besi nun jauh di sana, orang No. 1 di PSSI, Nurdin Halid, tengah bermimpi tentang kebebasannya kembali, laiknya hari-hari kemarin. Atau banyak orang berharap ada keajaiban bagi Soeharto, jenderal bintang lima yang memerintah Indonesia selama 32 tahun yang tengah berjuang antara hidup dan mati di RS Pusat Pertamina Jakarta .

Lupakan sejenak Nurdin Halid. Sepakbola adalah kenyataan. Dia setamsil medan perang: ada yang menang, ada yang kalah. Rinus Michels, arsitek tim Belanda era 1970-an sangat menggandrungi istilah tersebut. Itulah sebabnya, setiap kali akan berjibaku di lapangan hijau, dia selalu mengatakan kepada anak-anak asuhnya dengan sederet kalimat bersayap: jangan pernah melumpuhkan lawan dengan pedang, jika kamu dapat menggilasnya dengan tank. Dari sini lalu muncul istilah total-football yang kesohor itu.

Saya tak tahu persis apakah Michels seorang Machiavellisme. Niccolo’ Machiavelli – ahli teori politik abad pertengahan yang juga sastrawan cemerlang Italia – memegang teguh prinsip perang, berikut kelicikan-kelicikannya. Lewat buku The Art of War yang belakangan dijadikan Napoleon Bonaparte sebagai ‘kitab suci’ dalam menaklukkan Eropa, Machiavelli memproklamirkan bahwa perang adalah perang. Dan kemenangan menjadi tujuan utama yang menundukkan segala pertimbangan.

Tapi benarkah Machivelli? Tidak! Setidaknya buat seorang Rahmad Darmawan, pun Raja Isa. Pelatih Sriwijaya dan Persipura ini, sepanjang pertandingan tak menginstruksikan pemainnya agar melakukan segala cara demi menggapai kemenangan. Pertandingan memang berjalan keras namun masih dalam koridor fair play. Partai final ini tak hanya mengajarkan kita etika kesantunan dalam bersaing, melainkan juga mematahkan pandangan sebagaian besar masyarakat Indonesia yang terlanjur sinis kalau fair play hanya sebatas jargon.

Bagaiama caranya mengejawantahkan fair play? “Bermainlah dengan hati. Inilah yang selalu saya instruksikan kepada anak-anak, dimanapun saya melatih,” kata Rahmad Darmawan. Saya menangkap definisi bermain dengan hati yang dimaksud Rahmad berarti bermain lepas, bebas. Lihat saja hasilnya. Ferry Rotinsulu dkk mampu bermain stabil, kendati sempat tertinggal 0-1, menyamakan kedudukan sampai akhirnya keluar sebagai juara. Semangat juang punggawa-punggawa Wong Kito setebal beton jembatan Ampera di atas sungai Musi.

“Kekalahan adalah sebuah hal yang biasa dalam sepakbola. Saya bangga, anak-anak bermain maksimal,” kata Raja Isa.

Air mata setiap insan asin rasanya. Ini kata Siddhatta Gotama, beratus-ratus abad yang lampau, setelah dia mendapatkan pencerahan pascapertapaan yang panjang. Seperti halnya usia, air mata tak dapat disembunyikan. Air mata tak mengenal kasta. Tak mengenal tempat. Tak mengenal warna kulit. Tak mengenal keyakinan. Air mata merupakan ‘buah-buah’ perasaan, baik suka atau duka. Eduard Ivakdalam, Kapten Persipura tak kuasa menahan kesedihannya. Memang, pada tahun 2005, pemain yang akrab disapa Edu ini ikut mengantarkan Mutiara Hitam menjadi kampiun liga. Sayang, setahun kemudian, Persipura gagal menjinakkan Singo Edan Arema Malang di partai final Copa. Dan kini, kendati awalnya diunggulkan, toh Edu harus berbesar hati lantaran masih jauh panggang dari api.

Jadi, kalau anak-anak Palembang menangis bahagia, biarlah begitu, jangan diganggu. Biarlah mereka berpesta. Pesta kemenangan, kemenangan dari sebuah penantian yang panjang.


Tatkala Kata Kehilangan Makna

Siapa yang ingin menjadi pemimpin, baiklah dia mafhum bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang permanen. Kepemimpinan berarti bhakti yang harus dipertanggungjawabkan, dimana orang yang dipimpin merupakan hakim yang sesungguhnya. Jadi, seorang despot, cepat atawa lambat, akan terjungkal oleh waktu.

Kita ingat Mohammad Reza Pahlevi. 26 Oktober 1976, setelah memerintah selama 26 tahun di atas Takhta Merak, pemimpin berjuluk Syah ini – dengan suatu upacara gemerlapan, tentu saja – memahkotai dirinya sendiri dan istrinya menjadi raja dan ratu di atas singgasana Persia yang telah berusia 2.500 tahun.

Dalam satu wawancara dengan wartawan US News and World Report pada bulan Juni 1978, Syah berkata,”Tak ada orang yang dapat menggulingkan aku. Aku didukung oleh 70.000 pasukan. Semuanya pekerja dan kebanyakan dari rakyat”.

Waktu terus bergerak, berpacu. Hanya berselang enam bulan, Syah Reza digulingkan ulama gaek yang selama 15 tahun hidup dalam pengasingan di Prancis, Ayatullah Khomeini. Khomeini, - demikianlah sejarah mencatat - kemudian mendirikan Republik Islam Iran . Khomeini tak didukung oleh berlaksa-laksa tentara bersenjata pleno, seperti halnya Syah, melainkan sebuah elan membara : pengabdian kepada Islam.

PENGABDIAN. Sebuah kata yang kehilangan makna kini. Tatkala pengabdian kehilangan makna, kita tak lagi punya pedoman guna melakukan sesuatu sebagai wujud tanggungjawab. Pengabdian, dengan kata lain, kita lakoni secara serampangan. Itulah sebabnya, kita tak perlu heran jika ketidakpastian menjadi identitas kita di sini, di Indonesia ini. Kasus demi kasus tak tertuntaskan, menggantung. Lembaga peradilan sebagai benteng terakhir kepastian hukum, mandul. Hukum hanya milik orang-orang berduit. Bagi yang tak punya duit, terus diinjak dan kian ternafikan.

Di bidang olahraga, khususnya sepabola, sami mawon. Sebagai contoh, seorang teman pernah berkata kepada saya, pada sebuah malam yang basah di Jakarta : Menurut bung, kapan kira-kira Timnas Sepakbola kita berlaga di pentas dunia? Saya tak punya jawaban yang bagus untuk pertanyaannya. Makanya saya lebih memilih diam seraya menghela napas panjang. Karena diam, menurut saya, lebih arif daripada seribu kata sonder kepastian.

Boro-boro Piala Dunia, di pentas Asia Tenggara saja, prestasi terbaik kita tertoreh di SEA Games Manila , Filipina, 17 tahun lampau. Saat itu, Maman Suryaman dan kawan-kawan dengan langkah tegap menerima kalungan medali emas. Indonesia Raya berkumandang, menggelegar. Prestasi terbaik di Asia , yakni Asian Games 1986. Ricky Yacobi dkk menempatkan Indonesia bertenger di peringkat empat. Prestasi cemerlang lain, timnas besutan Sinyo Aliandoe membawa Herry Kiswanto dkk menjuarai Sub-Grup IIIB Pra Piala Dunia 1986. Setelah itu, prestasi timnas terjun bebas.

Gelontoran dana yang melimpah tak jua mampu mengembalikan kedigdayaan Indonesia di level Asia . Pelatih-pelatih asing diimpor. Hasilnya , Indonesia tetap saja jadi bulan-bulanan. “ Dulu , Thailand , Singapura , Vietnam , dan Malaysia bukan lawan sepadan kita. Kita terlalu kuat bagi mereka. Di kawasan Asia Indonesia begitu disegani,” kata Sinyo Aliandoe kepada saya, dalam sebuah pembicaraan santai di kawasan Senayan, Jakarta .

Kenapa itu bisa terjadi? Mungkin kita lupa wejangan Bung Karno: Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Sejarah menjadi semacam acuan buat kita untuk melangkah ke depan. Artinya, yang jelek diperbaiki. Yang bagus dipertahankan dan alangkah bahagianya kalau itu dapat ditingkatkan.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) selaku badan otorita tertinggi sepakbola di Tanah Air – ya ampun – juga tak maksimal dan kalau ditilik dari prestasi timnas malah boleh dibilang mengalami kemunduran. Bagaimana tidak. Sejak berdiri 19 April 1930, baru kali inilah Ketua Umum PSSI dipenjara. Nurdin Halid, politisi Partai Golongan Karya itu terpaksa mendekam di balik jeruji besi lantaran korupsi.

Saya menghormati pernyataan Nurdin Halid yang mengatakan bahwa ini tak ada hubungannya dengan sepakbola. Tapi, faktanya, eksistensinya di dalam bui berdampak kepada citra PSSI.

Tak sedikit yang mendesak agar Nurdin Halid legowo melepaskan jabatannya. Putra Makassar itu dinilai gagal menjalankan tugas. Bagi saya, persoalannya bukan diganti atau tidak. Sejak reformasi menggelinding hampir satu dasawarsa lalu, Indonesia sudah dipimpin empat presiden. Namun, situasi dan kondisi dihampir semua lini tak berubah ke arah yang lebih signifikan. Jika dipikir-pikir, di Indonesia ini banyak orang yang pintar. Dari profesor, jenderal, sampai paranormal berderet bak antrean kendaraan bermotor di SPBU. Toh tak membawa efek positif. Tak ada kerjasama. Tak ada unity. Tak ada kerendah hatian. Saling jegal. Saling kritik. Saling menjatuhkan. Semua ingin menjadi pahlawan.
Ada
kata-kata sarkastis yang dikatakan artoo-detoo yang tak rancak untuk didengar : Berbahagialah orang-orang yang mengkritik bukan untuk jadi pahlawan. Karena jadi pahlawan adalah naik takhta. Dan naik takhta cenderung korup.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen Pendidikan Nasional, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Persoalannya sekarang, masih adakah pemimpin atau pahlawan saat ini benar-benar membela kebenaran? Saya skeptis. Soalnya, kalimat sindiran seperti maju tak gentar membela yang bayarlah yang acapkali kita dengar. Dan kalau mau jujur memang demikianlah adanya. Kita butuh seorang pemimpin berjiwa pahlawan yang punya semangat pengabdian yang tulus.

Sebelum 2008 Tiba (Tentang Timnas Tentang Kebenaran)

Beberapa saat sebelum tahun 2007 pergi, saya bercakap-cakap dengan salah seorang legenda sepakbola Indonesia, Ricky Yacobi. Kami membahas tentang peluang dan asa timnas di tahun 2008. "Jangan terlampau banyak berharap," kata laki-laki kelahiran Medan, 44 tahun silam itu.

Menurut eks punggawa PSMS Medan dan Arseto Solo tersebut, selama PSSI tak melakukan revolusi kebijakan dengan cara menggalakkan turnamen-turneman di daerah di seluruh Indonesia maka bicara tentang prestasi dan timnas yang kuat hanyalah angan-angan belaka.
"Seharusnya PSSI mensosialisasikan turnemen-turnamen melalui pengurus-pengurus darah (Pengda). Dari sini kemudian akan banyak lahir bibit-bibit muda yang nantinya distok buat timnas. Cara seperti ini sudah pernah dilakukan di zaman saya, seperti Suratin cup dan lain-lain." ujarnya.

Mantan striker timnas era 1980-an yang juga pernah merumput bersama klub sepakbola profesional Jepang, Matsushita Electric, tak kuasa menahan jengkelnya. Sebab, kata dia, perekrutan pemain timnas kini tak berjalan fair. "Jangan mentang-mentang dia anak orang kaya lantas langsung bisa masuk timnas. Kalau memang kualitasnya di bawah rata-rata, ya jangan dipilih dong," sungut Ricky yang pada tahun 1986 ikut meyumbang medali emas SEA Games dan setahun kemudian membawa tim Merah Putih bertenger di peringkat empat Asian Games.

Soal pelatih? "Menurut saya, pelatihnya jangan tanggung-tanggung. Kontrak saja pelatih asing yang sudah punya nama. Si pelatih ini dikasih target, baik di kawasan Asia Tenggara dan Asia. Asistennya boleh lokal. Si asisten ini akan belajar banyak dari sang pelatih," katanya.

Saya setuju. Boleh dibilang, Ricky bukanlah orang pertama yang geram terhadap kinerja jajaran Nurdin Halid cs. Ibarat kata pepatah, anjing menggongging kafilah berlalu. Meski begitu, kebenaran haruslah tetap dikumandangkan. Soalnya, kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. Dan biar waktu yang menjawab.

Tentang ini, saya teringat sebuah cerita yang terdapat di dalam buku Para SUFI AGUNG, KISAH DAN LEGENDA yang ditulis secara apik oleh Mojdeh Dayat dan Mohammad Ali Jamnia.

Adalah seorang sufi bernama al-Husain Ibn Mansur al-Hallaj. Lahir di kota Tur, Bayda, Iran Tenggara tahun 866 M dan merupakan sufi paling kesohor di abad 9 dan 10. Umur 18, al-Hallaj mengepak koper lalu hijrah ke Irak. Di negara asal Abraham -Bapak leluhur Yahudi- inilah dia mencapai asketisisme. al-Hallaj ditakdirkan mati di tiang gantungan, di mana makna kebenaran berbenturan kepada purbasangka.

Usai menunaikan ibadah haji yang ketiga pada tahun 913, setelah 892 dan 903, al-Hallaj menemukan kesadaran tentang kebenaran. "Ana al-Haqq", katanya, lantang. Kalimat yang berarti Akulah Kebenaran tersebut sontak menuai protes. Kaum ulama Salaf yang ortodoks menyimpulkan al-Hallaj sesat dan ajaranya merupakan bidah yang harus dijauhi. Islam eksoteris, kata para ulama Salaf, menampik seorang manusia dapat menjadi satu dengan Allah.

Tak hanya ulama, tentu saja. Rekan-rekan al-Hallaj juga tak habis pikir dengan pernyataan itu. Mereka meyakini, seorang sufi seharusnya tidak mengungkapkan pengalaman-pengalaman pribadinya kepada orang lain.

Sebaliknya, pernyataan al-Hallaj justru membangkitkan gairahnya untuk mempertontonkan cinta kasih Ilahi bagi kemanusiaan, tak hanya muslim tapi seluruh manusia. "Hei, muslim semuanya, tolonglah aku! Selamatkan aku dari Dia! Oh, umat sekalian, Dia telah izinkan kalian untuk mencucurkan darahku. Bunuhlah aku. Aku mau keparat ini (sambil menunjuk dirinya sendiri) dibunuh". Dia juga berkata,"Ampuni mereka semua. Hukumlah aku atas dosa-dosa mereka". Al-Hallaj diseret ke pengadilan. Dia dianggap bersalah. Tak ubahnya tahanan politik, al-Hallaj diawasi secara ketat.

Al-Hallaj sebenarnya bukan tanpa pengikut. Meski dianggap 'sedeng', sufi ini memiliki banyak pengagum. Bahkan, dari sekian muridnya, beberapa di antaranya bercokol di golongan oposisi serta pemrintah yang tengah berkuasa. Celakanya, sang guru dijadikan obyek politik. Memang, golongan oposisi menganggap al-Hallaj adalah sosok Iman Mahdi. Tapi ini hanya untuk menciptakan huru hara di tengah masyarakat yang masih memperdebatkan siapa sebenarnya Iman Mahdi. Sedangkan pengikut al-Hallaj di pemerintahan memanfaatkan gurunya untuk melakukan reformasi sosial. Tak pelak, al-Hallaj terjebak di antara perselisihan murid-murid dan musuhnya.

Perselisihan ini, apa boleh buat, melahirkan pemberontakan yang berakhir kepada kudeta. Beruntung, situasi dapat dikendalikan oleh penguasa. Gampang ditebak, al-Hallaj dinobatkan sebagai biang kerok. Wazir Khalifah, di hadapan sidang majelis dan penguasa menuntut supaya al-Hallaj dieksekusi. Usulan diterima. Wazir Khalifah tersenyum, puas.

Sang sufi diarak ke tiang gantungan, dipertontonkan kepada ribuan orang. Saat berjalan ke tiang gantungan, wajah al-Hallaj sama sekali tak memancarkan takut, gentar apalagi. Dia tetap tenang. "Kenapa engkau berjalan dengan begitu bangganya, seakan tidak terjadi apa-apa?", tanya orang-orang. al-Hallaj menjawab,"Aku bangga karena aku sedang berjalan menuju tempat penjagalan".

Para algojo menyambuk tubuh al-Hallaj berkali-kali. Darah menetes, tak berhenti. Sebelum meregang nyawa, dia menatap kerumunan yang ada di depannya lalu berseru "Haqq, haqq, haqq, Ana al-Haqq". Tubuh yang tak berjiwa itu lalu dimasukkan ke baskom besar direbus di dalam minyak mendidih. Selanjutnya dibakar.